Pages

Saterdag 29 Junie 2013

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI TANAMAN

LAPORAN PRAKTIKUM
EKOLOGI TANAMAN (AGT 228)
ACARA I
Cekaman Air







Unsoed





Oleh
Hamdan Maruli Siregar
NIM AIL010170
Kelas C








KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
AGROTEKNOLOGI
PURWOKERTO

2012   


I. PENDAHULUAN
Air merupakan sumber kehidupan, tanpa air tidak ada makhluk yang dapat hidup. Begitu juga tanaman, salah satu unsur terbesar tanaman adalah air yaitu berkisar anatara 90% untuk tanaman muda, sampai kurang dari 10% untuk padi-padian yang menua sedangkan tanaman yang mengandung minyak , kandungan airnya sangat sedikit. penyiraman harus dilakukan teratur agar tidak kekurangan. Jika tidak disiram, tanaman akan mati kekeringan. Air merupakan bahan untuk fotosintesis, tetapi hanya 0,1% dari total air yang digunakan untuk fotosintesis. Air yang digunakan untuk transpirasi tanaman sebanyak 99 %, dan yang digunakan untuk hidrasi 1 %, termasuk untuk memelihara dan menyebabkan pertumbuhan yang lebih baik. Selama pertumbuhan tanaman membutuhkan sejumlah air yang tepat. (Campbell, at al. 2003)
Adpun beberapa kegunaan air bagi tanaman antara lain:
a.    Bagian dari protoplasma, biasanya membentuk 85 % sampai 90% dari berat keseluruhan bagian hijau tanaman (jaringan yangsedang tumbuh).
b.    Reagen yang penting dalam proses fotosintesa dan dalam proseshidrolitik seperti perubahan pati menjadi gula.
c.   Pelarut garam, gas dan berbagai material yang bergerak ke dalamtanaman, melalui dinding sel dan jaringan xylem serta menjaminkesinambungannya.
d.   Sesuatu yang esensial untuk menjamin adanya turgiditaspertumbuhan sel, stabilitas bentuk daun, proses membuka danmenutupnya mulut daun, proses membuka dan menutupnya mulutdaun, kelangsungan gerak struktur tanaman. (Haryati. 2008)
Cekaman (stress) merupakan factor lingkungan biotik dan abiotik yang dapat mengurangi laju proses fisiologi. Tanaman mengimbangi efek merusak dari cekaman melalui berbagai mekanisme yang beroperasi lebih dari skala waktu yang berbeda, tergantung pada sifat dari cekaman dan proses fisiologis yang terpengaruh. Respon ini bersama-sama memungkinkan tanaman untuk mempertahankan tingkat yang relatif konstan dari proses fisiologis, meskipun terjadinya cekaman secara berkala dapat mengurangi kinerja tanaman tersebut. Jika tanaman akan mampu bertahan dalam lingkungan yang tercekam, maka tanaman tersebut memiliki tingkat resistensi terhadap cekaman. Contoh cekaman adalah kekurangan nitrogen, kelebihan logam berat, kelebihan garam dan naungan oleh tanaman lain.
Kekeringan adalah merupakan salah satu bencana yang sulit dicegah dan datang berulang. Secara umum pengertian kekeringan adalah ketersediaan air yang jauh di bawah dari kebutuhan air untuk kebutuhan hidup, pertanian, kegiatan ekonomi dan lingkungan. Terjadinya kekeringan di suatu daerah bisa menjadi kendala dalam peningkatan produksi pangan di daerah tersebut. Di Indonesia pada setiap musim kemarau hampir selalu terjadi kekeringan pada tanaman pangan dengan intensitas dan luas daerah yang berbeda tiap tahunnya. (Jumin,1989)
Cekaman kekeringan terjadi ketika ketersediaan air pada tanah berkurang dan kondisi atmosfer menyebabkan terus berkurangnya air karena transpirasi dan evaporasi. Cekaman bisa terjadi pada sehari-hari tanamanatau periode waktu yang panjang (Hale, 1987).
Pertumbuhan tanaman sangat dibatasi oleh jumlah air yang tersedia dalam tanah, karena air mempunyai peranan penting dalam proses kehidupan tanaman. Kekurangan air akan mengganggu aktivitas fisiologis maupun morfologis, sehingga mengakibatkan terhentinya pertumbuhan. Defisiensi air yang terus-menerus akan menyebabkan berbagai perubahan irreversible (tidak dapat balik) dan padagilirannya tanaman akan mati. Pada kondisi cekaman kekeringan  maka  stomata  akan  menutup sebagai  upaya  untuk  menahan  laju transpirasi.  Saat  stomata  tertutup,  maka tidak akan terjadi fotosintesis.
Menurut Jumin  (1992), kekurangan air  langsung mempengaruhi  pertumbuhan  vegetatif  tanaman.  Proses  ini  pada  sel  tanaman ditentukan  oleh  tegangan  turgor.  Hilangnya  turgiditas  dapat  menghentikan pertumbuhan sel (penggandaan dan pembesaran) yang akibatnya pertumbuhan tanaman terhambat.
Mekanisme toleransi pada tanaman sebagai respon adanya cekaman kekeringan meliputi, (1) kemampuan tanaman tetap tumbuh pada kondisi kekurangan air yaitu dengan menurunkan luas daun dan memperpendek siklus tumbuh, (2) kemampuan akar untuk menyerap air di lapisan tanah paling dalam, (3) kemampuan untuk melindungi meristem akar dari kekeringan dengan meningkatkan akumulasi senyawa tertentu seperti glisin, betain, gula alkohol, atau prolin untuk osmotic adjustment, dan (4) mengoptimalkan peranan stomata untuk mencegah hilangnya air melalui daun. Dengan adanya osmotic adjustment tersebut memungkinkan pertumbuhan tetap berlangsung dan stomata tetap terbuka. (Fallah,2006)
Tergenag merupakan kondisi dimana media tumbuh tanaman (tanah) tergenangi oleh air sebagai akibat melimpahnya jumlah air pada permukaan tanah sehingga tanah menjadi jenuh air. Dampak genangan air adalah menurunkan pertukaran gas antara tanah dan udara yang mengakibatkan menurunnya ketersediaan O2 bagi akar, menghambat pasokan O2 bagi akar dan mikroorganisme (mendorong udara keluar dari pori tanah maupun menghambat laju difusi). Genangan berpengaruh terhadap proses fisiologis dan biokimiawi antara lain respirasi, permeabilitas akar, penyerapan air dan hara, penyematan N. Genangan menyebabkan kematian akar di kedalaman tertentu dan hal ini akan memacu pembentukan akar adventif pada bagian di dekat permukaan tanah pada tanaman yang tahan genangan. Kematian akar menjadi penyebab kekahatan N dan cekaman kekeringan fisiologis.
Kaktus termasuk kedalam tanaman yang hidup pada kondisi kering yang disebut tanaman xerofit. Secara morfologis, kaktus beradaptasi dengan mereduksi daun dalam bentuk duri atau jarum serta rambut daun fungsinya untuk mengurangi penguapan air dan untuk pendinginan adaptasi selain itu, daun dilapisi oleh kutikula yang sangat tebal, daun berdinding tebal. Daun juga terdapat lapisan lilin yang menutup stomata penuh pada siang hari serta tersembunyi. Batangnya bertipe herbaseus yang tebal dan berdaging. Tanaman ini berbatang tebal untuk melindungi dari penguapan berlebih karena tempat yang panas dan ketersediaan air sedikit. Tanaman ini memiliki tipe percabangan aksiler tak terbatas dan memiliki lapisan lilin untuk mengurangi penguapan. Tipe akarnya serabut dan memanjang di dalam tanah agar mudah menyerap air dan unsur hara. Sistem perakarannya adalah penetrasi yang dalam sehingga memungkinkan absorpsi lebih efisien.
Secara anatomis, pada penampang melintang sel epidermis tanaman ini mengalami penebalan kutikula untuk mengurangi kehilangan air yang teradsorpsi. Selain itu, untuk beradaptasi pada daerah yang ketersediaan airnya sedikit, kaktus memerlukan jaringan penyimpan air. Stomatanya tersembunyi untuk memperkecil air yang keluar dari tubuh. Untuk menyimpan air maka di dalam sel tanaman ini terdapat jaringan penyimpan air yang ada di bawah hipodermis. yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan air secara efisien Pada kaktus juga dilengkapi jaringan palisade. Ruang antar selnya relatif kecil.
Keadaan yang lain yaitu ruang sel yang dimiliki relatif kecil, akar yang sangat panjang. Sedangkan ciri yang khusus yaitu adanya jaringan penyimpan air yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan air secara efisien. Semua itu dilakukan sebagai bentuk adaptasi tanaman yang hidup pada kondisi air yang ekstrem yaitu kekeringan agar dapat bertahan hidup dan tetap eksis dan tidak punah.yang mewakili tanaman xerofit. Pada penampang membujur terdapat banyak stomata di jaringan palisade yang berfungsi untuk fotosintesis. Stomatanya menutup penuh pada siang hari. Hal ini dilakukan agar tanaman dapat hidup pada kondisi air yang ekstrem yaitu kekeringan.
Enceng gondok merupakan tanaman yang masuk kedalam tanaman Hidrofit. Tanaman Hidrofit adalah tanaman yang bisa beradaptasi dengan kondisi air yang berlebihan. Secara morfologi, tanaman enceng gondok memiliki batang yang berongga dan mempunyai kantong akar pada ujung akarnya. Daun enceng gondok tipis dan lebar, hal tiu bermanfaat untuk mempercepat penguapan. Daun yang lebar juga berguna untuk menjaga keseimbangan antara masuknya air dengan besarnya pengeluaran air melalui evapotranspirasi. Tanaman ini memiliki akar yang pendek karena akar tersebut dengan mudah mencari air untuk tumbuh. Enceng gondok memiliki kutikula yang tipis yang berfungsi untuk menahan banyaknya air yang masuk ke dalam sel. Kemudian kantong akar bisa mencegah banyaknya air yang masuk agar tidak berlebihan dan mencegah pembusukkan akar karena selalu berada dalam air.
Secara anatomis pada penampang melintang eceng gondok terdapat berjas pengangkut dan rongga udara (aerenkim) yang berfungsi sebagai tempat penyimpan udara sehingga membantu unuk mengapung. Rongga ini aktivitasnya adalah mengisi O2 dan diubah menjadi CO2 pada saat respirasi. Rongga ini sangat penting bagi tanaman yang hidup di air karena kadar oksigen yang banyak dalam air dapat menghambat pertumbuhan tanaman dan akar mengalami penyusutan.
Sedangkan pada penampang membujur, eceng gondok memiliki stomata yang jumlahnya banyak dan terdapat di permukaan daun bagian atas. Stomatanya terletak di bagian permukaan atas daun. Ini bertujuan agar terjadi penguapan secara intensif supaya kelebihan air pada tubuh tanaman dapat dikurangi. Stomata yang dimiliki oleh tumbuhan ini berbeda dengan yang dipunyai jagung yaitu dalam distribusinya, stomata eceng gondok tercecer dan menyebar sedangkan pada jagung teratur berjajar. Hal ini menunjukkan proses evapotranspirasi cukup besar. Selain enceng gondok (Eichornia crassipes) yang terapung, ada tumbuhan hidrofit lain yaitu yang tenggelam misalnya ganggang (Algae), dan yang melayang misalnya Hidrilla sp.
   
II. METODE PRAKTIKUM
A.      Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan pada saat praktikum, antara lain: timbangan, ember, selang, saringan 2,5 dan 10 mm, mistar, kertas, benih jagung, benih kangkung, benih padi, tanah kering, tanah tergenang dan tanah normal.
B.     Prosedur Kerja
1.    Tanah diambil di sekitar kampus dengan volume sesuai kebutuhan
2.    Polybag disiapkan untuk diisi tanah
3.    Benih jagung, kangkung dan padi yang terlah disiapkan ditanam pada polybag tersebut
4.    Perlakuan diatur dengan cekaman tertentu.
5.    Dilakukan pengamatan dan pemupukan setelah 1 minggu.

IV. PEMBAHASAN
Cekaman (stress) merupakan factor lingkungan biotik dan abiotik yang dapat mengurangi laju proses fisiologi. Tanaman mengimbangi efek merusak dari cekaman melalui berbagai mekanisme yang beroperasi lebih dari skala waktu yang berbeda, tergantung pada sifat dari cekaman dan proses fisiologis yang terpengaruh. Respon ini bersama-sama memungkinkan tanaman untuk mempertahankan tingkat yang relatif konstan dari proses fisiologis, meskipun terjadinya cekaman secara berkala dapat mengurangi kinerja tanaman tersebut. Jika tanaman akan mampu bertahan dalam lingkungan yang tercekam, maka tanaman tersebut memiliki tingkat resistensi terhadap cekaman. Contoh cekaman adalah kekurangan nitrogen, kelebihan logam berat, kelebihan garam dan naungan oleh tanaman lain.
Praktikum acara I mengenai cekaman air kali ini dilakukan dengan mengambil  tanah di sekitar kampus dengan volume sesuai kebutuhan. Kemudian polybag disiapkan untuk diisi tanah. Kemudian benih jagung, kangkung dan padi yang telah disiapkan dan kemudian ditanam pada polybag tersebut. Selanjutnya mengatur perlakuan dengan cekaman tertentu dan melakukan pengamatan serta pemupukan setelah 1 minggu. Adapun perlakuan yang diberiakan dibagi atas tiga kelompok yaitu cekaman kekeringan, cekaman tergenang dan normal.
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, diketahui bahwa pemberian perlakuan cekamanair yang berbeda untuk setiap jenis tanaman ataupun satu jenis tanaman memiliki pengaruh yang berbeda terhadap pertumbuhan tanaman itu sendiri. Hal tersebut dapat diketahui dari hasil pengamatan yang menunjukkan adanya heterogenitas data pertumbuhan tanaman untuk setiap jenis tanaman dengan perlakuan yang berbeda. Adapun variabel pertumbuhan tanaman yang diamati adalah tinggi tanaman, bobot akar, bobot tajuk dan bobot tanaman.
Dari data hasil pengamatan diketahui bahwa pengaruh perlakuan pemberian cekaman airyang berbeda pada beberapa jenis tanaman sampel menunjukkan pengaruh yang berbeda – beda terhadap pertumbuhan tanaman sampel. Adapun perlakuan yang menunjukkan pengggaruh yang tidak menghambat pertumbuhan tanaman secara signifikan pada kondisi tercekam adalah sebagi berikut:
1. Tinggi tanaman
a.    Kankung : perlakuan yang menunjukkan pengggaruh yang tidak menghambat pertumbuhan tanaman secara signifikan pada kondisi tercekam adalah PgJK (genangan) dengan rerata pertumbuhan 17,65.
b.    Padi : perlakuan yang menunjukkan pengggaruh yang tidak menghambat pertumbuhan tanaman secara signifikan pada kondisi tercekam adalah PkJP (kering) dengan rerata pertumbuhan 23,16.
c.  Jagung : perlakuan yang menunjukkan pengggaruh yang tidak menghambat pertumbuhan tanaman secara signifikan pada kondisi tercekam adalah PkJJ (kering) dengan rerata pertumbuhan 27,62.
2. Bobot tanaman
a.    Kangkung : perlakuan yang menunjukkan pengggaruh yang tidak menghambat pertumbuhan tanaman secara signifikan pada kondisi tercekam adalah PkJK (kering) dengan rerata pertumbuhan 0,75.
b.    Padi : perlakuan yang menunjukkan pengggaruh yang tidak menghambat pertumbuhan tanaman secara signifikan pada kondisi tercekam adalah PgJP (genangan) dengan rerata pertumbuhan 0,41.
c.  Jagung : perlakuan yang menunjukkan pengggaruh yang tidak menghambat pertumbuhan tanaman secara signifikan pada kondisi tercekam adalah PnJJ (normal) dengan rerata pertumbuhan 1,45.
3. Bobot tajuk
a.    Kangkung : perlakuan yang menunjukkan pengggaruh yang tidak menghambat pertumbuhan tanaman secara signifikan pada kondisi tercekam adalah PgJK (genangan) dengan rerata pertumbuhan 0,7.
b.    Padi : perlakuan yang menunjukkan pengggaruh yang tidak menghambat pertumbuhan tanaman secara signifikan pada kondisi tercekam adalah PnJP (normal) dengan rerata pertumbuhan 0,3.
c.  Jagung : perlakuan yang menunjukkan pengggaruh yang tidak menghambat pertumbuhan tanaman secara signifikan pada kondisi tercekam adalah PnJJ (normal) dengan rerata pertumbuhan 1,18.
4. Bobot akar
a.    Kangkung : perlakuan yang menunjukkan pengggaruh yang tidak menghambat pertumbuhan tanaman secara signifikan pada kondisi tercekam adalah PkJK (kering) dengan rerata pertumbuhan 0,2.
b.    Padi : perlakuan yang menunjukkan pengggaruh yang tidak menghambat pertumbuhan tanaman secara signifikan pada kondisi tercekam adalah PgJP (genangan) dengan rerata pertumbuhan 0,34 .
c.  Jagung : perlakuan yang menunjukkan pengggaruh yang tidak menghambat pertumbuhan tanaman secara signifikan pada kondisi tercekam adalah PnJJ (normal) dengan rerata pertumbuhan 0,3.
Perlakuan pemberian cekamanair pada tanaman sampel untuk masing – masing perlakuan menunjukkan pengaruh yang berbeda. Hal ini dikarenakan oleh beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman itu sendiri. Namun secara garis besar faktor yang mempengaruhi respon tanaman terhadap adanya cekaman tergantung daripada batas toleransi tanaman tersebut dalam merespon adanya kondisi cekaman dan sifat dari tanaman itu sendiri dalam adaptasi dengan cekaman yang ada. Dalam hal ini kalau lingkungan dalam keadaan suboptimal, tanaman akan memberikan reaksi dan berusaha keras untuk bertahan. Dia dalam keadaan stress (tercekam).
Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa apabila perlakuan pemberian cekaman air tidak terlalu mempengaruhi terhadap pertumbuhan tanaman berarti cekaman yang diberikan masih berada dalam batas toleransi tanaman tersebut, sehingga tidak menghambat pertumbuhan tanaman secara signifikan. Berada halnya dengan cekaman yang memberikan pengaruh signifikan dalam menghambat pertumbuhan tanaman, yang berarti bahwa cekaman yang diberikan berada diluar batas toleransi dari tanaman yang bersangkutan, sehingga pengruhnya dalam menghambat pertumbuhan tanaman sangat signifikan dan dapat diketahui dari adanya perubahan ciri morfologi dari tanaman yang bersangkutan. Selain itu tanaman juga pada umumnya memiliki strategi tersendiri dalam menanggapi adanya cekaman air. Hal ini sebagimana yang dikatakan oleh “Hukum Alam” yang menyatakan bahwa Efisiensi tumbuhan liar tidak berhubungan dengan kemampuan mengekstrak P dari tanah alam menanggapi cekaman air, atau penggunaan P yang lebih efisien dalam tanaman, tetapi berdasar kemampuan strategi tanaman liar dalam melambatkan pertumbuhan tanaman.
Mekanisme ketahanan terhadap kekeringan terdiri dari :
a.    Drought escape:
Adalah kemampuan tanaman untuk menyelesaikan siklus hidupnya sebelum terjadi kekurangan air tanah dan tanaman (kekeringan). Dought escape ditentukan oleh kecepatan perkembangan fenologis dan plastisitas perkembangan. Dijumpai pada tanaman yang memang biasa tumbuh di daerah kering: di daerah padang pasir atau tanaman yang secara genetic sudah adapted dengan kondisi kekeringan.
b.   Drought avoidance
Mempertahankan atau mempercepaat penyerapan air  dengan cara :
1.    Menambah kepadatan dan kedalaman perakaran.
2. Agar potensial air dalam daun tetap tinggi, terutama kalau laju evapotranspirasi tinggi, selain harus mempertahankan penyerapan air, tanaman juga perlu memiliki tahanan yang rendah aliran air dari akar kedaun, dengan menambah diameter dan jumlah pembuluh xylem.
c.    Drought tolerance
1.    Tidak dipengaruhi oleh rendahnya potensial air tanaman.
2. Tanaman mempunyai struktur anatomi, morfologi dan fisiologi tertentu untuk mempertahankan laju fotosintesis.
3.  Memilki mekanisme untuk menyesuaikan diri dengan potensial air rendah dan tetap mempertahankan proses-proses pertumbuhan, perkembangan dan produksi.
4. Tanaman mempertahankan turgor sel dengan cara: mengatur osmotik, menambah elastisitas jaringan, mengurangi ukuran sel, dan meningkatkan toleransi protoplasma terhadap desikasi (kekeringan).
Respon tanaman terhadap lahan tergenang.
a.  Efek penggenangan pada pertumbuhan tajuk meliputi pengurangan pertumbuhan memanjang, klorosis, senesens, absisi, palayuan, hypertropi, epinasti, pembentukan akar rambut pada bagian pangkal batang, pembentukan lentisel, pembentukan aerenkhim, pengerutan daun, penurunan laju pertumbuhan relatif.
b.  Berpengaruh pada pertumbuhan akar: pertumbuhan memanjang menjadi lambat, pembentukan rambut akar terhambat, dan bila penggenangan terlalu lama, akar menjadi hitam, mati atau busuk.
Adapun perlakuan yang paling baik (tidak terlalu menghambat pertumbuhan tanaman sampel) dari beberapa perlakuan yang diberikan dapat dilihat dari respon tanaman terhadap cekamanitu sendiri, dalam hal ini perubahan morfologi dapat dijadikan parameter utamanya. Dari data pengamatan diketahui bahwa perlakuan yang paling baik untuk masing – masing sampel tanaman adalah sebagi berikut.
a.    Kangkung : perlakuan Pg (genangan) dan Pk (kering)
b.    Padi : Pg (genangan)
c.    Jagung : Pn (normal)
Namun secara keseluruhan pengaruh perlakuan yang paling baik (tidak terlalu menghambat pertumbuhan tanaman sampel) untuk semua jenis tanaman sampel adalah Pg yaitu cekaman genangan, walaupun secara jumlah perlakuan sama baiknya dengan Pk dan Pn, namun secara rerata pertumbuhan tanamannya Pg lebih baik dari pada Pk dan Pn. Selain itu, hal ini juga menunjukkan bahwa tanaman sampel memiliki toleransi yang cukup tinggi terhadap lingkungan tergenang dibandingkan dengan lingkungan keringmaupun normal. Hal ini ditunjukkan dengan adanya pertumbuhan tanaman secara morfologis yang memiliki rerata lebih baik. Selain itu khusus pada tanaman padi hal ini sangatlah wajar jika pada lingkungan tergenang memiliki pertumbuhan yang normal, sebab tanaman padi memiliki sel aerenkhim yang digunakan untuk menyerap oksigen. 

V. KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan, maka dapat disimpulkan bahwa:
1.  Cekaman (stress) merupakan factor lingkungan biotik dan abiotik yang dapat mengurangi laju proses fisiologi. Tanaman mengimbangi efek merusak dari cekaman melalui berbagai mekanisme yang beroperasi lebih dari skala waktu yang berbeda, tergantung pada sifat dari cekaman dan proses fisiologis yang terpengaruh.
2.  Secara garis besar faktor yang mempengaruhi respon tanaman terhadap adanya cekaman tergantung daripada batas toleransi tanaman tersebut dalam merespon adanya kondisi cekaman air.
3.    Perlakuan yang paling baik (tidak terlalu menghambat pertumbuhan) adalah Pg (genangan).
4.  Tanaman padi dapat tumbuh baik pada lingkungan tergenang dikarenakan memiliki sel aerenkhim yang berfungsi untuk menyererap oksigen dari lingkungan luar.

DAFTAR PUSTAKA
Campbell. 2003. Biologi Jilid 2. Erlangga, Jakarta.
Dharmawan, Agus. 2005. Ekologi Hewan. UM Press, Malang.
Fallah, Affan Fajar. 2006. Perspektif Pertanian dalam Lingkungan yang Terkontrol. http://io.ppi jepang.org. Diakses 5 Juli 2009.

Haryati. 2008. Pengaruh Cekaman Air Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman http://library.usu.ac.id/download/fp/hslpertanian-haryati2.pdf. Diakses pada tanggal 5 Juli 2009.

Hakim, Nurhajati. 1986. Dasar-dasarIlmu Tanah. PenerbitUniversitas Lampung, Lampung.

Jumin, H. B. 1989. Ekologi Tanaman Suatu Pendekatan Fisiologis. CV Rajawali, Jakarta.





LAPORAN PRAKTIKUM
EKOLOGI TANAMAN (AGT 228)
ACARA II
Pupuk Kandang







Unsoed





Oleh
Hamdan Maruli Siregar
NIM AIL010170
Kelas C








KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
AGROTEKNOLOGI
PURWOKERTO
2012   



I. PENDAHULUAN
Pemupukan menurut pengertian khusus ialah pemberian bahan yang dimaksudkan untuk menyediakan hara bagi tanaman. Umumnya pupuk diberikan dalam bentuk padat atau cair melalui tanah dan diserap oleh akar tanaman. Namun pupuk dapat juga diberikan lewat permukaan tanaman, terutama daun.
Secara umum pemupukan merupakan salah satu usaha pengelolaan kesuburan tanah. Dengan mengandalkan sediaan hara dari tanah asli saja, tanpa penambahan hara, produk pertanian akan semakin merosot. Hal ini disebabkan ketimpangan antara pasokan hara dan kebutuhan tanaman. Hara dalam tanah secara berangsur-angsur akan berkurang karena terangkut bersama hasil panen, pelindian, air limpasan permukaan, erosi atau penguapan. Pengelolaan hara terpadu antara pemberian pupuk dan pembenah akan meningkatkan efektivitas penyediaan hara, serta menjaga mutu tanah agar tetap berfungsi secara lestari. (Deptan, 2007)
Secara garis besar pupuk digolongkan menjadi dua yakni pupuk organik dan pupuk anorganik.
1. Pupuk Organik
Pupuk organic adalah semua sisa bahan tanaman, pupuk hijau, dan kotoran hewan yang mempunyai kandungan unsure hara rendah. Pupuk organic tersedia setelah zat tersebut mengalami proses pembusukan oleh mikro organisme. Selain pupuk anorganik, pupuk organic juga harus dberikan pada tanaman. Macam-macam pupuk organic adalah sebagi berikut:
a.    Kompos: Pupuk kompos adalah pupuk yang dibuat dengan cara membusukkan sisa-sisa tanaman. Pupuk jenis ini berfungsi sebagai pemberi unsure-unsur hara yang berguna untuk perbaikan struktur tanah.
b.    Pupuk Hijau: Pupuk hijau adalah bagian tumbuhan hijau yang mati dan tertimbun dalam tanah. Pupuk organic jenis ini mempunyai perimbangan C/N rendah, sehingga dapat terurai dan cepat tersedia bagi tanaman. Pupuk hijau sebagai sumber nitrogen cukup baik di daerah tropis, yaitu sebagai pupuk organic sebagi penambah unsure mikro dan perbaikan struktur tanah.
c.    Pupuk kandang: Pupuk kandang adalah pupuk yang berasal dari kotoran hewan. Kandungan hara dalam puouk kandang rata-rata sekitar 55% N, 25% P2O5, dan 5% K2O (tergantung dari jenis hewan dan bahan makanannya). Makin lama pupuk kandang mengalamai proses pembusukan, makin rendah perimbangan C/N-nya.
2. Pupuk Anorganik
Pupuk anorganik atau pupuk buatan (dari senyawa anorganik) adlah puuk yang sengaja dibuat oleh manusia dalam pabrik dan mengandung unsure hara tertentu dalam kadar tinggi. Pupuk anorganik digunakan untuk mengatasi kekurangan mineral murni dari alam yang diperlukan tumbuhan untuk hidup secara wajar. Puuk anorganik dapat menghasilkan bulir hijau dan yang dibutuhkan dalam proses fotosintesis.Berdasarkan kandungan unsure-unsurnya, pupuk anorganik digolongkan sebagai berikut :
a.   Pupuk Tunggal: Pupuk tunggal yaitu pupuk yang mengandung hanya satu jenis unsure hara sebagai penambah kesuburan. Contoh pupuk tunggal yaitu pupuk N, P, dan K.
1.    Pupuk Nitrogen
Fungsi nitrogen (N) bagi tumbuhan, antara lain: mempercepat pertumbuhan tanaman, menambah tinggi tanaman, dan merangsang pertunasan, memperbaiki kualitas, terutama kandungan proteinnya, menyediakan bahan makanan bagi mikroba (jasad renik)
Nitrogen diserap dalam tanah berbentuk ion nitrat atau ammonium. Kemudian, didalam tumbuhan bereaksi dengan karbon membentuk asam amino, selanjutnya berubah menjadi protein. Nitrogen termasuk unsure yang paling banyak dibutuhkan oleh tanaman karena 16-18% protein terdiri dari nitrogen. Pupuk yang paling banyak mengandung unsure nitrogen adalah pupuk urea.
Macam-macam pupuk nitrogen sebagai berikut.
a. Pupuk urea (CO(NH2)2) yang mengandung 47% nitrogen (paling tinggi dibandingkan dengan pupuk nitrogen jeni lain). Urea sangat mudah larut dalam air dan juga mudah diubah menjadi ion nitrat (NO3-) yang mudah diserap oleh tumbuh-tumbuhan. Cara pembuatan urea :
2NH3(g) + CO2(g) ---> CO(NH2)2(s) +H2O (l)
b.    Pupuk ZA (Zwavel Ammonium) atau ammonium sulfat ((NH4)2SO4) yang mengandung 21% nitrogen.
c.    Pupuk ammonium klorida (salmiak) atau NH4Cl, mengandung 20% nitrogen.
d.   Pupuk ASN (ammonium Sulfat Nitrat) atau [(NH4)3(SO4)(NO3)], mengandung 23-26% nitrogen.
e.    Pupuk natrium nitrat atau sodium nitrat (NaNO3), mengandung 15% nitrogen.
2.  Pupuk Fosforus
Fosforus (P) bagi tanaman berperan dalam proses, antara lain: respirasi dan fotosintesis, penyusunan asam nukleat, pembentukan bibit tanaman dan penghasil buah, perangsang perkembangan akar, sehingga tanaman akan lebih tahan terhadap kekeringan, dan mempercepat masa panen sehingga dapat mengurangi resiko keterlambatan waktu panen.
Unsur fosfor diperlukan diperlukan dalam jumlah lebih sedikit daripada unsure nitrogen. Fosfor diserap oleh tanaman dalam bentuk apatit kalsium fosfat, FePO4, dan AlPO4.
Macam-macam pupuk fosfor sebagai berikut :
a.    Pupuk superfosfat (Ca(H2PO4)2) yang sangat mudah larut dalam air sehingga mudah diserap oleh akar tanaman. Contoh: Engkel superfosfat (ES) yang mengandung sekitar 15% P2O5, Double superfosfat (DS) yang mengandung sekitar 30% P2O5, dan Tripel Superfosfat (TSP) yang mengandung sekitar 45%P2O5.
b.    Pupuk FMP (Fused Magnesium Phosphate) atau Mg3(PO4)2 yang baik digunakan pada tanah yang banyak mengandung besi dan aluminium.
c.    Pupuk aluminium fosfat (AlPO4)
d.   Pupuk besi (III) fosfat (FePO4)
3.  Pupuk Kalium
Fungsi kalium bagi tanaman, antara lain: mempengaruhi susunan dan mengedarkan karbohidrat di dalam tanaman, mempercepat metabolisme unsure nitrogen dan mencegah bunga dan buah agar tidak mudah gugur. 
Macam-macam pupuk kalium sebagai berikut:
a.    Pupuk kalium klorida atau potassium klorida (KCl). Ada 2 macam pupuk KCl yang beredar di pasaran, yaitu KCl 80 (mengandung 50% K2O) dan KCl 90 (mengandung 53% K2O).
b.    Pupuk ZK (Zwavel Kalium) atau kalium sulfat (K2SO4) yang baik digunakan pada tanaman yang tidak tahan te rhadap konsentrasi ion klorida tinggi. Ada 2 macam pupuk ZK yang beredar di pasaran, yaitu ZK 90 (mengandung 50% K2O) dan ZK 96 (mengandung 53% K2O).
b. Pupuk Majemuk: Pupuk majemuk yaitu pupuk yang mengandung lebih dari satu unsure hara yang  digunakan untuk menambah kesuburan tanah. Contoh pupuk majemuk yaitu NP, NK, dan NPK. Pupuk majemuk yang paling banyak digunakan adalah pupuk NPK yang mengandung senyawa ammonium nitrat (NH4NO3), ammonium dihidrogen fosfat (NH4H2PO4), dan kalium klorida (KCL).Kadar unsure hara N, P, dan K dalam pupuk majemuk dinyatakan dengan komposisi angka tertentu. Misalnya pupuk NPK 10-20-15 berarti bahwa dalam pupuk itu terdapat 10% nitrogen, 20% fosfor (sebagai P2O5)dan 15% kalium (sebagai K2O).
Penggunaan pupuk majemuk harus disesuaikan dengan kebutuhan dari jenis tanaman yang akan dipupuk karena setiap jenis tanaman memerlukan perbandingan N, P, dan K tertentu. Di Indonesia beredar beberapa jenis pupuk majemuk dengan komposisi N, P, dan K yang beragam. (Anonym, 2009)
Pupuk kandang adalah pupuk organik yang berasal dari kotoran ternak. Kualitas pupuk kandang sangat tergantung pada jenis ternak, kualitas pakan ternak, dan cara penampungan pupuk kandang.Pupuk kandang dari ayam atau unggas memiliki unsur hara yang lebih besar daripada jenis ternak lain. Penyebabnya adalah kotoran padat pada unggas tercampur dengan kotoran cairnya. Umumnya, kandungan unsur hara pada urine selalu lebih tinggi daripada kotoran padat.seperti kompos, sebelum digunakan, pupuk kandang perlu mengalami proses penguraian. Dengan demikian kualitas pupuk kandang juga turut ditentukan oleh C/N rasio.
Dalam dunia pupuk kandang, dikenal istilah pupuk panas dan pupuk dingin. Pupuk panas adalah pupuk kandang yang proses penguraiannya berlangsung cepat sehingga terbentuk panas. Pupuk dingin terjadi sebaliknya, C/N yang tinggi menyebabkan pupuk kandang terurai lebih lama dan tidak menimbulkan panas.
Ciri-ciri pupuk kandang yang baik dapat dilihat secara fisik atau kimiawi. Ciri fisiknya yaitu berwarna cokelat kehitaman, cukup kering, tidak menggumpal, dan tidak berbau menyengat. Ciri kimiawinya adalah C/N rasio kecil (bahan pembentuknya sudah tidak terlihat) dan temperaturnya relatif stabil. Adapun dosis pupuk kandang yang baik untuk mendukung pertumbuhan tanaman adalah perbandingan pupuk kandang dan tanah yang ideal yaitu 1:3 ataupun 1:2. (Iqbal, 2008).

II. METODE PRAKTIKUM
A.  Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini, antar lain: polybag, hand sprayer, penggaris, timbangan, oven, pasir, air, bibit kangkung, padi dan jagung serta pupuk kandang.
B.  Prosedur Kerja
a.    Alat dan bahan disiapkan
b.    Polybeg diisi tanah yang sudah dicampur pupuk kandang
c.    Kemudian bibit ditanam pada media yang sudah disiapkan
d.   Setelah itu dilakukan pengamatan tinggi tanaman, bobot tanaman, bobot tajuk dan bobot akar
e.    Catat hasil pengamatan dan sajikan dalam bentuk tabel yang sudah dibuat sebelumnya.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    HASIL
  Pengukuran tinggi tanaman
Perlakuan
Blok
Rerata Perlakuan
I
II
III
K0JK
K0Jp
K0Jj
K1Jk
K1Jp
K1Jj
K2Jk
K2Jp
K2Jj
12,5
23,8
45,5
13,2
21,6
39,2
10,7
26,7
29
13,7
24,67
29,83
15,5
28,13
32,5
19,66
33,69
37,5
17,98
19,07
33,83
23,5
24,83
16,83
16,15
8,25
29,67
14,73
22,51
36,39
17,4
24,85
29,51
15,5
22,88
32,06

      Pengukuran Bobot Tanaman
Perlakuan
Blok
Rerata Perlakuan
I
II
III
K0JK
K0Jp
K0Jj
K1Jk
K1Jp
K1Jj
K2Jk
K2Jp
K2Jj
0,4
0,23
3,7
0,93
0,37
2,87
0,9
0,23
2,27
0,5
0,2
1,63
1,33
0,26
2,03
1,3
0,43
2,9
0,54
0,397
1,1
0,93
0,16
0,43
0,64
0,217
1,67
0,48
0,28
2,14
1,06
0,26
1,78
0,95
0,29
2,28

      Pengukuran Bobot Akar
Perlakuan
Blok
Rerata Perlakuan
I
II
III
K0JK
K0Jp
K0Jj
K1Jk
K1Jp
K1Jj
K2Jk
K2Jp
K2Jj
0,1
0,1
0,75
0,1
0,43
0,37
0,1
0,07
1,7
0,1
0,1
0,43
0,1
0,1
0,43
0,1
0,13
1,2
0,1
0,33
0,4
0,06
0,06
0,16
0,84
0,067
0,37
0,1
0,18
0,53
0,09
0.20
0,32
0,35
0,09
1,09

      Pengukuran Bobot Tajuk
Perlakuan
Blok
Rerata Perlakuan
I
II
III
K0JK
K0Jp
K0Jj
K1Jk
K1Jp
K1Jj
K2Jk
K2Jp
K2Jj
0,3
0,13
2,95
0,83
0,27
2,5
0,8
0,16
0,57
0,4
0,1
1,2
1,23
0,16
1,6
1,2
0,3
1,76
0,53
0,067
0,7
2,6
0,1
0,26
0,54
0,14
1,14
0,41
0,1
1,62
1,55
0,18
1,45
0,85
0,2
1,16

B.  PEMBAHASAN
Unsur hara merupakan salah satu faktor yang menunjang pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Penggunaan pupuk sebagai salah satu usaha untuk meningkatkan produksi tanaman sudah sangat membudaya dan para petani telah menganggap bahwa pupuk dan cara pemupukan sebagai salah satu hal yang tidak dapat dipisahkan dalam kegiatan usaha taninya. Pupuk organik umumnya merupakan pupuk lengkap karena mengandung unsur makro dan mikro meskipun dalam jumlah sedikit. Tanaman akan merespon dan peka terhadap lingkungan abiotik dan biotik. Tanaman dalam pertumbuhannya dipengaruhi oleh lingkungan pada lingkungan abiotik tersebut dapat mempengaruhi tanaman secara morfologis, fisiologis dan genetis. (Handayanto, 2007)
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, diketahui bahwa pemberian perlakuan unsur hara (pemupukan) yang berbeda untuk setiap jenis tanaman ataupun satu jenis tanaman memiliki pengaruh yang berbeda terhadap pertumbuhan tanaman itu sendiri. Hal tersebut dapat diketahui dari hasil pengamatan yang menunjukkan adanya heterogenitas data pertumbuhan tanaman untuk setiap jenis tanaman dengan perlakuan yang berbeda. Adapun variabel pertumbuhan tanaman yang diamati adalah tinggi tanaman, bobot tanaman, bobot akar dan bobot tajuk tanaman.
Dari data hasil pengamatan diketahui bahwa pengaruh perlakuan pemberian unsur hara yang berbeda pada beberapa jenis tanaman sampel menunjukkan pengaruh yang berbeda – beda terhadap pertumbuhan tanaman sampel. Adapun perlakuan yang menunjukkan pengggaruh baik atau meningkatkan pertumbuhan tanaman adalah sebagai berikut:
1. Tinggi tanaman
a.   Kankung : perlakuan yang memberikan pengaruh baik untuk pertumbuhan tinggi tanaman adalah K1 (1 tanah : 1 pupuk kandang) dengan rerata pertumbuhan 17,4.
b.  Padi : perlakuan yang memberikan pengaruh baik untuk pertumbuhan tinggi tanaman adalah K2 (2 tanah : 1 pupuk kandang) dengan rerata pertumbuhan 22,8.
c.   Jagung : perlakuan yang memberikan pengaruh baik untuk pertumbuhan tinggi tanaman adalah K0 (non pupuk) dengan rerata pertumbuhan 36,39.
2. Bobot tanaman
a.   Kangkung : perlakuan yang memberikan pengaruh baik adalah K1 (1 tanah : 1 pupuk kandang) dengan rerata 1,06.
b.  Padi : perlakuan yang memberikan pengaruh baik adalah K2 (2 tanah : 1 pupuk kandang) dengan rerata 0,29.
c.   Jagung : perlakuan yang memberikan pengaruh baik adalah K2 (2 tanah : 1 pupuk kandang) dengan rerata 2,28.
3. Bobot akar
a.   Kangkung : perlakuan yang memberikan pengaruh baik adalah K2 (2 tanah : 1 pupuk kandang) dengan rerata 0,35.
b.   Padi : perlakuan yang memberikan pengaruh baik adalah K1 (1 tanah : 1 pupuk kandang) dengan rerata 0,20.
c.   Jagung : perlakuan yang memberikan pengaruh baik adalah K2 (2 tanah : 1 pupuk kandang) dengan rerata 1,09.
4. Bobot tajuk
a.   Kangkung : perlakuan yang memberikan pengaruh baik adalah K1 (1 tanah : 1 pupuk kandang) dengan rerata 1,55.
b.  Padi : perlakuan yang memberikan pengaruh baik adalah K2 (2 tanah : 1 pupuk kandang) dengan rerata 0,2.
c.    Jagung : perlakuan yang memberikan pengaruh baik adalah K0 (non pupuk) dengan rerata 1,62.
Perlakuan pemberian usur hara (pemupukan) pada tanaman sampel untuk masing – masing perlakuan menunjukkan pengaruh yang berbeda. Hal ini dikarenakan oleh beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman ittu sendiri. Namun secara garis besar faktor yang mempengaruhi respon tanaman terhadap pemupukan tergantung daripada status unsur hara itu sendiri terhadap pertumbuhan tanaman.
a.   Defisiensi : keberadaan unsur hara sangat dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan tanaman, hal ini dikarenakan tanaman berada dalam kondisi kekurangan unsur hara.
b.  Kritis : batas minimum dari unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman untuk mendukung pertumbuhan tanaman.
c.  Cukup : batas optimal keberadaan unsur hara yang dapat mendukung pertumbuhan tanaman secara optimal untuk menghasilkan produksi yang optimal pula.
d.   Toksik : kondisi dimana keberadaan unsur hara dapat menyebabkan efek beracun bagi tanaman. Hal ini dikarenakan keberadaan unsur hara yang berlebih dalam tanah. (Adisarwanto, 2005)
Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa apabila perlakuan pemberian unsur hara memberikan pengaruh baik terhadap pertumbuhan tanaman berarti unsur hara tersebut berada dalam kondisi defisiensi bagi tanaman. Maksudnya ketersedian unsur hara di lingkungan tumbuh tanaman masih kurang dari batas optimum yang dibutuhkan oleh tanaman. Sehingga apabila dilakaukan pemupukan akan meningkatkan pertumbuhan tanaman. Sedangkan apabila pemberian unsur hara tidak membrikan pengaruh yang optimal ataupun tidak beda nyata terhadap pertumbuhan tanaman yang diberikan perlakuan kontrol, berarti pada lingkungan tumbuh tanaman tersebut sudah tersedia unsur hara yang cukup. Sehingga penambahan pemberian unsur hara hanya berpengaruh sedikit terhadap pertumbuhan tanaman atau bahkan tidak mempengaruhi.
Adapun perlakuan yang paling baik dari beberapa perlakuan yang diberikan dapat dilihat dari respon tanaman terhadap keberadaan unsur hara itu sendiri, dalam hal ini perubahan morfologi dapat dijadikan parameter utamanya. Dari data pengamatan diketahui bahwa perlakuan yang paling baik untuk masing – masing sampel tanaman adalah sebagi berikut.
a.    Kangkung : perlakuan K1 (1 tanah : 1 pupuk kandang)
b.    Padi : K2 (2 tanah : 1 pupuk kandang)
c.    Jagung : K0 (non pupuk) dan K2 (2 tanah : 1 pupuk kandang)
Namun secara keseluruhan pengaruh perlakuan yang paling baik untuk semua jenis tanaman sampel adalah K2 yaitu 2 tanah : 1 pupuk kandang. Hal ini dikarenakan pada perlakuan K2 yang diberikan didapatkan data hasil pengamatan yang menunjukkan rereta pertumbuhan tanaman yang dominan baik dibandingkan dengan perlakuan K1 dan K0. Selain itu, hal ini dikarenakan pada perlakuan K2 yang memberikan 2 tanah : 1 pupuk merupakan dosis yang tepat untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Hal ini sesuai dengan literatur yang mengatakan bahwa pupuk kandang yang baik untuk mendukung pertumbuhan tanaman adalah perbandingan pupuk kandang dan tanah yang ideal yaitu 1:2 ataupun 1:3. Di sisi lain, pemberian pupuk dengan perbandingan yang kurang ideal seperti pada perlakuan K1 (1 tanah : 1 pupuk kandang) justru dapat menyebabkan tehambatnya pertumbuhan tanaman dikarenakan media tumbuh tanaman menjadi sukulen ataupun disenangi oleh hama, gulma maupun OPT lainnya, sehinnga secara tidak langsung akan menghambat pertumbuhan tanaman.

IV. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikum yang didapat, maka dapat disimpulkan bahwa:
1.    Status unsur hara bagi pertumbuhan dan produksi tanaman, antar lain:
a.   Defisiensi : keberadaan unsur hara sangat dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan tanaman, hal ini dikarenakan tanaman berada dalam kondisi kekurangan unsur hara.
b.   Kritis : batas minimum dari unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman untuk mendukung pertumbuhan tanaman.
c.  Cukup : batas optimal keberadaan unsur hara yang dapat mendukung pertumbuhan tanaman secara optimal untuk menghasilkan produksi yang optimal pula.
d.   Toksik : kondisi dimana keberadaan unsur hara dapat menyebabkan efek beracun bagi tanaman. Hal ini dikarenakan keberadaan unsur hara yang berlebih dalam tanah.
2.  Perlakuan yang paling baik untuk mendukung pertumbuhan tanaman adalah K2 (2 tanah : 1 pupuk kandang).
3.    Pupuk kandang yang baik untuk mendukung pertumbuhan tanaman adalah perbandingan pupuk kandang dan tanah yang ideal yaitu 1:2 ataupun 1:3.
4.    Pemberian pupuk yang tidak terlalu mempengaruhi pertumbuhan tanaman dikarenakan ketersedian unsur hara di lingkungan tumbuh tanaman sudah berada dalam kondisi cukup.

DAFTAR PUSTAKA
Adisarwanto, T. 2005. Budidaya dengan Pemupukan yang Efektif dan Pengoptimalan Peran Bintil Akar Kedelai. Penebar Swadaya, Bogor.

Anonym. 2009. Pengembangan Pertanian Pemupukan Berimbang. PT. Pupuk Sriwijaya, Palembang. (On-line). http://www.pusri.co.id/ indexC0301.php. Diakses 5 Juli 2012.

Deptan. 2007. Rekomendasi Pemupukan N, P dan K pada Padi Sawah Spesifik
Lokasi: Peraturan Menteri Pertanian No40/Permentan/OT.140/04/2007: Jakarta

Handayanto dan Hairiah, K. 2007. Biologi Tanah. Pustaka Adipura: Yogyakarta.
Iqbal, A. 2008. ”Potensi Kompos dan Pupuk Kandang untuk Produksi Padi Organik di Tanah Inceptisol”. Jurnal Akta Agrosia Vol.11 No.1 Hal: 13-18.




LAPORAN PRAKTIKUM
EKOLOGI TANAMAN (AGT 228)
ACARA III
pH Tanah
  






Unsoed





Oleh
Hamdan Maruli Siregar
NIM AIL010170
Kelas C








KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
AGROTEKNOLOGI
PURWOKERTO
2012   



I. PENDAHULUAN
pH adalah derajat keasaman yang digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman atau kebasaan yang dimiliki oleh suatu larutan. Ia didefinisikan sebagai kologaritma aktivitasion hidrogen (H+) yang terlarut. Koefisien aktivitas ion hidrogen tidak dapat diukur secara eksperimental, sehingga nilainya didasarkan pada perhitungan teoritis. Skala pH bukanlah skala absolut. Ia bersifat relatif terhadap sekumpulan larutan standar yang pH-nya ditentukan berdasarkan persetujuan internasional.
pH tanah merupakan indikator pelapukan tanah, kandungan mineral dalam batuan induk, lama waktu dan intensitas pelapukan, terutama pelindihan kation-kation basa dari tanah Nutrient seperti P banyak tersedia (optimum) pada pH asam sampai netral, dan akan sedikit pada pH dibawah atau diatas nilai optimum tersebut. pH tanah menunjukkan derajat keasaman tanah atau keseimbangan antara konsentrasi H+ dan OH- dalam larutan tanah. Apabila konsentrasi H+ dalam larutan tanah lebih banyak dari OH maka suasana larutan tanah menjadi asam, sebalikya bila konsentrasi OH- lebih banyak dari pada konsentrasi H+ maka suasana tanah menjadi basa. (Agus, 2005).
Reaksi tanah menunjukkan sifat kemasaman atau alkalinitas tanah yang dinyatakan dengan pH menunjukkan bahwa banyaknya konsentrasi ion hydrogen (H+) didalam tanah. Makin tinggi kadar ion H+ didalam tanah maka semakin masam tanah tersebut sedangkan jika didalam tanah ditemukan ion OH- yang jumlahnya berbanding terbalik dengan banyaknya H+ maka tanah tersebut tergolong alkalis (OH- lebih banyak daripada H+). Reaksi tanah menunjukkan tentang keadaan atau status kimia tanah. Status kimia tanah mempengaruhi proses-proses biologik, seperti pertumbuhan tanaman. Reaksi atau pH yang ekstrim menunjukkan keadaan kimia tanah yang dapat mengganggu proses biologik. Kelas kemasaman tanah ada 6 macam, yaitu < 4,5 sangat masam, 4,5 - 5,5 masam, 5,6 - 6,5 agak masam, 6,6 - 7,5 netral, 7,6 - 8,5 agak alkalis, dan < 8,5 alkalis (Hardjowigeno, 1987).
Tanah masam adalah tanah ber-pH rendah (pH dibawah 6), semakin rendah pH tanahnya maka semakin ekstrim kemasamannya. Adapun tanah basa adalah tanah yang memiliki pH > 7. Sedangkan tanah salin adalah tanah yang memiliki kandungan garam sangat tinggi. Cekaman salinitas sering terjadi sebagai akibat akumulasi garam akibat deposit garam asal bahan induk,intrusi air laut, atau evaporasi yang tinggi dengan curah hujan yang rendah. Bentuk garam yang dominan pada cekaman salinitas seperti ini pada umumnya adalah Natrium Klorida (NaCl). Pada lahan-lahan pantai sering memunculkan tanah-tanah salin sebagai akumulasi garam akibat kekeringan padamusim kemarau. Bahan organik di dalam tanah dapat berperan sumber unsur hara, memeliharakelembaban tanah, sebagai buffer dengan mengkhelat unsur-unsur penyebab salinitas sehingga dapatmeningkatkan ketersediaan unsur-unsur hara. Kandungan bahan organik dikebanyakan tanah saat initerdapat indikasi semakin merosot. Sekitar 80 % lahan sawah kandungan C organik tanahnya kurangdari 1 % (Aphani, 2001), apalagi pada lahan-lahan kering. Kandungan C organik kurang dari 1 %menyebabkan tanah tidak mampu menyediakan unsur hara yang cukup, disamping itu unsur hara yangdiberikan melalui pupuk tidak mampu dipegang oleh komponen tanah sehingga mudah tercuci,kapasitas tukar kation menurun, agregasi tanah melemah, unsur hara mikro mudah tercuci dan dayamengikat air menurun. Pada tanah dengan kandungan C organik rendah menyebabkan kebutuhanpemupukan makin meningkat dengan efisiensi yang merosot akibat tingginya tingkat pencucian.
Pentingnya pH tanah adalah menentukan mudah tidaknya unsur-unsur hara diserap tanaman, menunjukkan kemungkinan adanya unsur-unsur beracun, dan mempengaruhi perkembangan mikro organisme. Tanah yang terlalu masam dapat dinaikkan pH-nya dengan menambahkan kapur ke dalam tanah, sedang tanah yang terlalu alkalis dapat diturunkan pH-nya dengan penambahan belerang.   (Hardjowigeno, 2003).  
pH tanah sangat menentukan pertumbuhan dan produksi tanaman makanan ternak, bahkan berpengaruh pula pada kualitas hijauan makanan ternak. PH tanah yang optimal bagi pertumbuhan kebanyakan tanaman makanana ternak adalah antara 5,6-6,0. Pada tanah pH lebih rendah dari 5.6 pada umumnya pertumbuhan tanaman menjadi terhambat akibat rendahnya ketersediaan unsur hara penting seperti fosfor dan nitrogen. Bila pH lebih rendah dari 4.0 pada umumnya terjadi kenaikan Al3+ dalam larutan tanah yang berdampak secara fisik merusak sistem perakaran, terutama akar-akar muda, sehingga pertumbuhan tanaman menjadiaa terhambat. (Nazaruddin, 2000).
Selain itu pengaruh negatif dari kemasaman tanah (tanah masam) terhadap tanaman dapat menyebabkan permasalahan, antara lain: penurunan ketersediaan unsur hara bagi tanaman, meningkatkan dampak unsur beracun, penurunan hasil tanaman dan mempengaruhi fungsi penting biota tanah yang bersimbiosis dengan tanaman seperti fiksasi nitrogen oleh Rhizobium.

II. METODE PRAKTIKUM
A.    Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ini, antar lain: timbangan, ember, selang, saringan 2,5 dan 10 mm, mistar, kertas, benih jagung, benih kangkung, benih padi, tanah masam, tanah salin dan tanah basa.
B.     Prosedur Kerja
1.    Tanah diambil di sekitar kampus dengan volume sesuai kebutuhan.
2.    Polybag disiapkan untuk diisi tanah.
3.    Benih jagung, kangkung dan padi yang terlah disiapkan ditanam pada polybag tersebut.
4.    Perlakuan diatur dengan cekaman tertentu yaitu tanah salin, tanah masam dan tanah basa.
5.    Dilakukan pengamatan dan pemupukan setelah 1 minggu pelaksanaan praktikum tersebut.

III. PEMBAHASAN
pH tanah merupakan indikator pelapukan tanah, kandungan mineral dalam batuan induk, lama waktu dan intensitas pelapukan, terutama pelindihan kation-kation basa dari tanah Nutrient seperti P banyak tersedia (optimum) pada pH asam sampai netral, dan akan sedikit pada pH dibawah atau diatas nilai optimum tersebut. pH tanah menunjukkan derajat keasaman tanah atau keseimbangan antara konsentrasi H+ dan OH- dalam larutan tanah. Apabila konsentrasi H+ dalam larutan tanah lebih banyak dari OH maka suasana larutan tanah menjadi asam, sebalikya bila konsentrasi OH- lebih banyak dari pada konsentrasi H+ maka suasana tanah menjadi basa.
Praktikum acara III mengenai pH tanah kali ini dilakukan dengan cara mengambil  tanah yang ada di sekitar kampus dengan volume sesuai kebutuhan. Kemudian polybag disiapkan untuk diisi tanah tarsebut yang nantinya akan ditanami benih jagung, kangkung dan padi. Kemudian mengatur perlakuan dengan cekaman yaitu tanah salin, tanah masam dan tanah basa. Dan selanjutnya melakukan pengamatan serta pemupukan setelah 1 minggu memberikan perlakuan cekaman pada tiga jenis tanaman. Adapun perlakuan yang diberiakan dibagi atas tiga kelompok yaitu cekaman air masam, cekaman air basa dan cekaman air salin.
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, diketahui bahwa pemberian perlakuan cekaman yang berbeda untuk setiap jenis tanaman ataupun satu jenis tanaman memiliki pengaruh yang berbeda terhadap pertumbuhan tanaman itu sendiri. Hal tersebut dapat diketahui dari hasil pengamatan yang menunjukkan adanya heterogenitas data pertumbuhan tanaman untuk setiap jenis tanaman dengan perlakuan yang berbeda. Adapun variabel pertumbuhan tanaman yang diamati adalah tinggi tanaman, bobot akar, bobot tajuk dan bobot tanaman.
Dari data hasil pengamatan diketahui bahwa pengaruh perlakuan pemberian cekaman yang berbeda pada beberapa jenis tanaman sampel menunjukkan pengaruh yang berbeda – beda terhadap pertumbuhan tanaman sampel. Adapun perlakuan yang menunjukkan pengggaruh yang tidak menghambat pertumbuhan tanaman secara signifikan pada kondisi tercekam adalah sebagi berikut:
1. Tinggi tanaman
a.   Kankung : perlakuan yang menunjukkan pengggaruh yang tidak menghambat pertumbuhan tanaman secara signifikan pada kondisi tercekam adalah P2JK (basa) dengan rerata pertumbuhan 12,53.
b.    Padi : perlakuan yang menunjukkan pengggaruh yang tidak menghambat pertumbuhan tanaman secara signifikan pada kondisi tercekam adalah P0JP (masam) dengan rerata pertumbuhan 24,46.
c.  Jagung : perlakuan yang menunjukkan pengggaruh yang tidak menghambat pertumbuhan tanaman secara signifikan pada kondisi tercekam adalah P0JJ (masam) dengan rerata pertumbuhan 24,87.
2. Bobot akar
a.   Kangkung : perlakuan yang menunjukkan pengggaruh yang tidak menghambat pertumbuhan tanaman secara signifikan pada kondisi tercekam adalah P2JK (basa) dengan rerata pertumbuhan 0,153.
b.    Padi : perlakuan yang menunjukkan pengggaruh yang tidak menghambat pertumbuhan tanaman secara signifikan pada kondisi tercekam adalah P0JP (masam) dengan rerata pertumbuhan 5,973 .
c.  Jagung : perlakuan yang menunjukkan pengggaruh yang tidak menghambat pertumbuhan tanaman secara signifikan pada kondisi tercekam adalah P0JJ (masam) dengan rerata pertumbuhan 0,373.
3. Bobot tajuk
a.    Kangkung : perlakuan yang menunjukkan pengggaruh yang tidak menghambat pertumbuhan tanaman secara signifikan pada kondisi tercekam adalah P2JK (basa) dengan rerata pertumbuhan 0,546.
b.    Padi : perlakuan yang menunjukkan pengggaruh yang tidak menghambat pertumbuhan tanaman secara signifikan pada kondisi tercekam adalah P2JP (basa) dengan rerata pertumbuhan 0,506.
c.  Jagung : perlakuan yang menunjukkan pengggaruh yang tidak menghambat pertumbuhan tanaman secara signifikan pada kondisi tercekam adalah P0JJ (masam) dengan rerata pertumbuhan 1,113.
4. Bobot tanaman
a.    Kangkung : perlakuan yang menunjukkan pengggaruh yang tidak menghambat pertumbuhan tanaman secara signifikan pada kondisi tercekam adalah P2JK (basa) dengan rerata pertumbuhan 0,386.
b.    Padi : perlakuan yang menunjukkan pengggaruh yang tidak menghambat pertumbuhan tanaman secara signifikan pada kondisi tercekam adalah P2JP (basa) dengan rerata pertumbuhan 0,523.
c.  Jagung : perlakuan yang menunjukkan pengggaruh yang tidak menghambat pertumbuhan tanaman secara signifikan pada kondisi tercekam adalah P0JJ (masam) dengan rerata pertumbuhan 1,467.
Perlakuan pemberian cekaman pada tanaman sampel untuk masing – masing perlakuan menunjukkan pengaruh yang berbeda. Hal ini dikarenakan oleh beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman itu sendiri. Namun secara garis besar faktor yang mempengaruhi respon tanaman terhadap adanya cekaman tergantung daripada batas toleransi tanaman tersebut dalam merespon adanya kondisi cekaman. Dalam hal ini kalau lingkungan dalam keadaan suboptimal, tanaman akan memberikan reaksi dan berusaha keras untuk bertahan. Dia dalam keadaan stress (tercekam).
Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa apabila perlakuan pemberian cekaman  tidak terlalu mempengaruhi terhadap pertumbuhan tanaman berarti cekaman yang diberikan masih berada dalam batas toleransi tanaman tersebut, sehingga tidak menghambat pertumbuhan tanaman secara signifikan. Berada halnya dengan cekaman yang memberikan pengaruh signifikan dalam menghambat pertumbuhan tanaman, yang berarti bahwa cekaman yang diberikan berada diluar batas toleransi dari tanaman yang bersangkutan, sehingga pengruhnya dalam menghambat pertumbuhan tanaman sangat signifikan dan dapat diketahui dari adanya perubahan ciri morfologi dari tanaman yang bersangkutan.
Adapun perlakuan yang paling baik (tidak terlalu menghambat pertumbuhan tanaman sampel) dari beberapa perlakuan yang diberikan dapat dilihat dari respon tanaman terhadap cekaman itu sendiri, dalam hal ini perubahan morfologi dapat dijadikan parameter utamanya. Dari data pengamatan diketahui bahwa perlakuan yang paling baik untuk masing – masing sampel tanaman adalah sebagi berikut:
a.    Kangkung : perlakuan P2 (Basa)
b.    Padi : P0 (Masam) dan P2 (Basa)
c.    Jagung : P0 (Masam)
Namun secara keseluruhan pengaruh perlakuan yang paling baik (tidak terlalu menghambat pertumbuhan tanaman sampel) untuk semua jenis tanaman sampel adalah P0 yaitu cekaman masam, walaupun secara jumlah perlakuan sama baiknya dengan P2, namun secara rerata pertumbuhan tanamannya P0 lebih baik dari pada P2. Selain itu, hal ini juga menunjukkan bahwa tanaman sampel lebih toleran terhadap lingkungan masam dibandingkan dengan lingkungan basa maupun salin. Hal ini ditunjukkan dengan adanya pertumbuhan tanaman secara morfologis yang memiliki rerata lebih baik.
Respon tanaman terhadap cekaman masam, yaitu: pada daun kultivar-kultivar yang toleran, Mn tersebar merata, sedang pada kultivar yang tidak toleran, terjadi akumulasi Mn di tempat-tempat tertentu, sehingga tampak terjadi khlorosis dan nekrosis di tempat-tempat terjadinya akumulasi.
Respon tanaman terhadap cekaman basa, yaitu:
a.  Efek penggenangan pada pertumbuhan tajuk meliputi pengurangan pertumbuhan memanjang, klorosis, senesens, absisi, palayuan, hypertropi, epinasti, pembentukan akar rambut pada bagian pangkal batang, pembentukan lentisel, pembentukana erenkhim, pengerutan daun, penurunan laju pertumbuhan relatif.
b.  Berpengaruh pada pertumbuhan akar : pertumbuhan memanjang menjadi lambat, pembentukan rambut akar terhambat, dan bila penggenangan terlalu lama, akar menjadi hitam, mati atau busuk.
c.  Penyerapan air berkurang, karena tingginya salinitas, sehingga secara osmotic mengurangi ketersediaan air.
d.   Tanaman layu dan mengalami klorosis, karena berkurangnya serapan air dan unsur hara.
Respon tanaman terhadap salinitas, yaitu:
a. Salt exclusion ada 2 golongan, yaitu: adaptasi berupa pencegahan kekurangan air internal melalui peningkatan sintesis zat-zat organic terlarut dan pengurangan luas permukaan. Dampak negatifnya : kekurangan air yang dapat menyebabkan menurunnya pengembangan sel, menurunnya fiksasi CO2 dan menurunnya sintesis protein.
b.  Salt inclusion: Adaptasinya berupa toleransi jaringan: pembagian ruang (kompartmentasi), penempatan garam, sintesis zat-zat osmotik yang sesuai dan penggantian K/Na. Pencegahan konsentrasi ion yang sangat besar berupa: retranslokasi dalam phloem, meningkatkan air jaringan, excresi garam dan pengguguran daun. Dampak negatif yang mungkin timbul: toksisitas ion akibat jumlah ion tidak seimbang sehingga mengakibatkan toksisitas ion Cl dan Na serta defisiensi K dan Ca.

IV. KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan, maka dapat disimpulkan bahwa:
1.  Pentingnya pH tanah adalah menentukan mudah tidaknya unsur-unsur hara diserap tanaman, menunjukkan kemungkinan adanya unsur-unsur beracun, dan mempengaruhi perkembangan mikro organisme.
2.   Secara garis besar faktor yang mempengaruhi respon tanaman terhadap adanya cekaman tergantung dari pada batas toleransi tanaman tersebut dalam merespon adanya kondisi cekaman air.
3.   Perlakuan yang paling baik (tidak terlalu menghambat pertumbuhan) adalah P0 (masam)

DAFTAR PUSTAKA
Agus, F. 2005. Analisis Kimia Tanah, Tanaman, Air, dan Pupuk. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian, Bogor.

Aphani. 2001. Kembali ke Pupuk Organik. Kanwil Deptan Sumsel. Sinartani. No. 2880.

Litbang. 2012. Asal Sejarah Evolusi dan Taksonomi Tanaman Jagung. (On-line). pustaka. litbang. deptan. go. Id /bppi/ lengkap /bpp 10231. diakses tanggal 29 juni 2012.

Nazaruddin. 2000. Sayuran Dataran Rendah. Penebar Swadaya, Jakarta.
Sarwono Hardjowigeno. 1987. Ilmu  Tanah. PT Mediatama Sarana Perkasa, Jakarta.




LAPORAN PRAKTIKUM
EKOLOGI TANAMAN (AGT 228)
ACARA IV
Transek
   






Unsoed





Oleh
Hamdan Maruli Siregar
NIM AIL010170
Kelas C








KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
AGROTEKNOLOGI
PURWOKERTO
2012 




I. PENDAHULUAN
Analisa vegetasi adalah salah satu cara untuk mempelajari tentang susunan (komposisi) jenis dan bentuk struktur vegetasi (masyarakat tumbuhan). Analisi vegetasi dibagi atas tiga metode yaitu : (1) mnimal area, (2) metode kuadrat dan (3) metode jalur atau transek (Soerianegara,1988) . Salah satu metode dalam analisa vegetasi tumbuhan yaitu dengan menggunakan metode transek. Untuk mempelajari suatu kelompok hutan yang luas dan belum diketahui keadaan sebelumnya paling baik dilakukan dengan transek.Cara ini paling efektif untuk mempelajari perubahan keadaan vegetasi menurut keadaan tanah, topografi dan elevasi.(Setiadi, 1984).
Metodologi-metodologi yang umum dan sangat efektif serta efisien jika digunakan untuk penelitian, yaitu metode kuadrat, metode garis, metode tanpa plot dan metode kwarter. Akan tetapi dalam praktikum kali ini hanya menitik beratkan pada penggunaan analisis dengan metode garis dan metode intersepsi titik (metode tanpa plot) (Syafei, 1990).
Transek adalah jalur sempit melintang lahan yang akan dipelajari/diselidiki. Tujuannya untuk mengetahui hubungan perubahan vegetasi dan perubahan lingkungan. atau
1. Belt transect (transek sabuk)
Belt transek merupakan jalur vegetasi yang lebarnya sama dan sangat panjang. Lebar jalur ditentukan oleh sifat-sifat vegetasinya untuk menunjukkan bagan yang sebenarnya. Lebar jalur untuk hutan antara 1-10 m. Transek 1 m digunakan jika semak dan tunas di bawah diikutkan, tetapi bila hanya pohon-pohonnya yang dewasa yang dipetakan, transek 10 m yang baik. Panjang transek tergantung tujuan penelitian. Setiap segment dipelajari vegetasinya.
a.    Kelebihan
1.    Akurasi data dapat diperoleh dengan baik
2.    Data yang diperoleh juga jauh lebih baik dan banyak
3.   Penyahian struktur komunitas seperti kekayaan jenis, dominasi, frekuensi kehadiran, ukuran koloni dan keanekaragaman jenis dapat disajikan lebih menyeluruh.
b.    Kekurangan
1.    Membutuhkan tenaga peneliti yang banyak
2.    Survei membutuhkan waktu yang lama
3.    Dituntut keahlian peneliti dalam identifikasi objek penelitian
4.    Biaya yang digunakan / dibutuhkan juga relatif lebih besar
2. Line transect (transek garis)
Dalam metode ini garis-garis merupakan petak contoh (plot). Tanaman yang berada tepat pada garis dicatat jenisnya dan berapa kali terdapat/dijumpai. Pada metode garis ini, sistem analisis melalui variabel-variabel kerapatan, kerimbunan, dan frekuensi yang selanjutnya menentukan INP (indeks nilai penting) yang akan digunakan untuk memberi nama sebuah vegetasi. Kerapatan dinyatakan sebagai jumlah individu sejenis yang terlewati oleh garis. Kerimbunan ditentukan berdasar panjang garis yang tertutup oleh individu tumbuhan, dan dapat merupakan prosentase perbandingan panjang penutupan garis yang terlewat oleh individu tumbuhan terhadap garis yang dibuat (Syafei, 1990). Frekuensi diperoleh berdasarkan kekerapan suatu spesies yang ditemukan pada setiap garis yang disebar (Rohman, 2001).
a.    Kelebihan
1.    Data yang diperoleh lengkap dengan menggambar posisi objek yang ditemukan pada kuadrat.
2. Sumber informasi yang bagus dalam pemantauan laju pertumbuhan, tingkat kematian dan laju rekruitmen
b.    Kekurangan
1.    Proses kerjanya lambat dan membutuhkan waktu lebih lam.
2.    Peralatan yang digunakan tidak praktis.
3.    Metode ini cocok hanya pada luasan yang relatif kecil. 

II. METODE PRAKTIKUM
A.  Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktiku ini, antara lain: transportasi, jas almamater, alat tulis, penggaris, kamera, soil tester, termohygro meter, altimeter, pH meter, lux meter, kertas plano, spidol, lahatatau lokasi yang akan diamati, vegetasi dan lingkungan sekitar tempat praktikum.

B.  Prosedur Kerja
Tahap Persiapan
    a.     Sebelum dilakukan transek, sebaiknya dipersiapkan semua peralatan yang dibutuhkan untuk mengambil data-data yang sekiranya diperlukan. Dipersiapkan pula kelompok yang akan mengikuti transek.
    b.     Lakukan kembali pembahasan mengenai tujuan pelaksanaan transek tersebut secara detail sehingga pada saat di lapang tidak terjadi kesalahan
Pelaksanaan
    a.     Sebelum berangkat, bahas kemabali maksud dantjuan kegiatan penelusuran lokasi serta proses kegiatan  yang akan dilakukan.
   b.   Sepakati bersama praktikan, lokasi-lokasi penting yang akan dikunjungi serta topik-topik kajian yang akan dilakukan. Setelah itu, sepakati lintasan penelusuran.
   c.   Sepakati titik awal perjalanan (lokasi pertama ), biasanya diambil dari titik terdekat dengan kita berada pada saat itu.
 d. Lakukan perjalanan dan amati keadaan disepanjang perjalanan. Biarkan petani (masyarakat) menunjukkan hal-hal yang dianggap penting untuk diperlihatkan dan dibahas keadaannya. Didiskusikan keadaan sumber daya tersebut dan amati dengan seksama.
    e.     Buatlah catatan-catatan hasil diskusi di setiap titik pengamatan.
Setelah Perjalanan
   a.  Bisa selama berhenti dilokasi tertentu, gambar bagan transek dibuat utnuk setiap bagian lintasan yang sudah ditelusuri. Tetapi, yang sering terjadi adalah pembuatan bagan setelah seluruh lintasan ditelusuri.langkah-langkah kegiatannya adalah sebagai berikut :
·      Jelaskan cara dan proses membuat bagan.
·     Sepakati lambing atau symbol-simbol yang dipergunakan  untuk menggambar bagan transek. Catat simbol-simbol tersebut beserta artinya disudut kertas. Pergunakan spidol berwarna agar jelas dan menarik.
·   Mintalah masyarakat untuk menggambarkan bagan transek berdasarkan hasil lintasan yang telah dilakukan. Buatlah dengan bahan atau cara yang mudah diperbaiki atau dihapus karena akan banyak koleksi terjadi.
·   Selama penggambaran, tim PRA mendampingi karena pembuatan irisan ini cukup sulit terutama mengenai perkiraan ketinggian (naik-turun permukaan bumi), dan Perkiraan jarak antara satu lokasi drngan lokasi lain.
    b.     Pergunakan hasil gambar transek tersebut untuk mendiskusikan kebih lanjut permasalahan dan potensi.
    c.     Buatlah catatan-catatan hasil diskusi tersebut.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
1.      HASIL
Text Box: GAMBAR SPOT ATAS1
Foto0320

Text Box: GAMBAR SPOT GABUNGAN (ATAS, BAWAH, TENGAH)2
394747_468712676474153_150278758_n



B. PEMBAHASAN
Praktikum transek dilakukan di salah satu desa di Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, dengan mengamati ekosistem dan komunitas di salah satu wialyah pada tiga wilayah yang berbeda,yaitu wilayah bawah, tengah, dan atas. Masing-masing wilayah diamati vegetasinya, berdasarkan parameter yang telah ditentukan, pada tiga titik yang berbeda. Setelah dilakukan pengamatan, hasil pengamatan dicatat dan dilakukan presentasi (pemaparan) serta sharing data dengan kelompok wilayah lain sehingga didapat data dari tiga wilayah yang berbeda.
Pengamatan dilakukan dengan berbagai macam parameter. Parameter yang digunakan mencakup aspek topografi wilayah, pola budidaya, keadaan cuaca serta keadaan tanah. Parameter tersebut dianggap mewakili keadaan keseluruhan dari ekosistem dan komunitas wilayah tersebut.  Dengan mengetahui keadaan wilayah, maka akan didapat informasi spesifik yang berguna dalam penanganan masalah apabila terjadi suatu permasalahan.
Peralatan dalam praktikum ini digunakan yang mendukung parameter yang akan diamati. Peralatan tersebut antara lain: pHmeter untuk menunjukkan pH tanah, altimeter untuk menunjukkan ketinggian tempat, lux meter diguanakan untuk menunjukkan intensitas cahaya dan termohidrometer untuk mengukur kelembaban suhu. Peralatan yang diapakai sebaiknya secukupnya saja asalkan bisa mewakili parameter, karena pengamatan dilakukan di lapang sehingga penggunaan peralatan yang berlebihan dalam segi kuantitas dapat mengganggu jalannya pengamatan.
Hasil pengamatan pada lahan wilayah bawah didapat hasil cukup bervariasi, yaitu: 1) Jenis tanaman yang dominan: padi jagung dan singkong; 2) Pola tanam: monokultur dan tumpang sari; 3) pH tanah: 2-7,3; 4) tekstur tanah: lempung berpasir, liat berpasir, remah dan liat berdebu; 4) kelembaban tanah: 13-65%; 5) ketinggian tempat: 170-300 m dpl; 6) suhu rata-rata: 23-30˚C ; 7) intensitas cahaya: 273-817lux; 8) warna tanah: coklat kemerahan, coklat dan coklat kehitaman; 9) permasalahan yang terjadi: gulma dan kurang pemeliharaan dan 10)sistem irigasi: tadah hujan.
Hasil pengamatan pada lahan wilayah tengah didapat hasil cukup bervariasi, yaitu: 1) Jenis tanaman yang dominan : kelapa, bambu dan pisang; 2) Pola tanam : monokultur dan tumpang sari; 3) pH tanah: 6-7 ; 4) tekstur tanah: liat berpasir dan liat berdebu; 5) kelembaban tanah: 20-36%; 6) ketinggian tempat: 470-490 m dpl; 7) suhu rata-rata: 28-30˚C; 8) intensitas cahaya: 230-812 lux; 9) warna tanah: coklat kemerahan, coklat, dan coklat kehitaman; 10) permasalahan yang terjadi: hama dan penyakit tanaman dan 11) sistem irigasi: tadah hujan/nonteknis.
Hasil pengamatan pada lahan wilayah atas didapat hasil cukup bervariasi, yaitu: 1) Jenis tanaman yang dominan: cabai, cengkeh, singkong dan kakao; 2) Pola tanam: monokultur dan tumpang sari; 3) tekstur tanah: gembur, liat, dan lempung berpasir; 4) kelembaban tanah: 15-33%; 5) ketinggian tempat: 500-620 m dpl; 6) suhu rata-rata: 23-32˚C; 7) intensitas cahaya: 249-1018 lux; 8) warna tanah: coklat dan coklat kehitaman; 9) permasalahan yang terjadi: hama dan penyakit tanaman dan 10) sistem irigasi: tadah hujan.
Data hasil pengamatan pada masing-masing wilayah jika dilihat dari gambar pengamatan, menunjukkan ketidak seragaman data. Ketidakseragaman ini terjadi bukan pada masalah hasil, namun lebih pada pin-poin parameter. Ketidakseragaman ini dapat disebabkan oleh keadaan cuaca yang berbeda pada masing-masing wilayah. Perbedaan persepsi juga dapat menyebabkan apa yang diamati itu berbeda. Kondisi alat juga sangat berpengaruh pada kevalidan data yang diperoleh.
Pertumbuhan tanaman dan urutannya yang terjadi dalam suatu tahuan ditentukan oleh interaksi iklim, tanah, tanaman dan pengelolaan. Suatu jenis tanaman akan tumbuh baik jika kebutuhan minimum akan air, energi dan nutrient tersedia serta ada tempat untuk tumbuh. Setiap jenis tanaman memerlukan susunan factor tumbuh tertentu untuk pertumbuhan yang optimal (Wisnubroto,1999).
Sebagai salah satu faktor penting pada kegiatan budidaya pertanian, pengamatan terhadap kondisi karakteristik tanah dirasa sangat penting. Berdasarkan hasil pengamatan , diperoleh data yang menunjukan sifat atau karakteristik tanah sampel dari berbagai tipe ketinggain lokasi. Tekstur tanah dari semua lokasi memiliki jenis lempung berpasir terutama terlihat jelas pada daerah atas, hal ini disebabkan karena rata-rata fraksi debu pada daerah dengan kondisi yang miring akan mudah terbawa oleh aliran permukaan karena ukuran partikelnya yang relative kecil serta ringan, sehingga pada daerah atas keberadaan fraksi debut cukup sedikit.
Menurut Kartasapoetra (1993), pada daerah dengan curah hujan yang tinggi, air hujan yang menimpa tanah akan memberikan dua afek yaitu menghanyutkan bahan organic atau meresapkan bahan organic kedalam tanah. Sehingga pH tanah pada lokasi atas lebih besar jarena bahan organic tercuci ke areal yang lebih rendah yang mengakibatkan akumulasi bahan organic di lokasi yang lebih rendah. Peristiwa itu pula yang menyebabkan warna tanah pada daerah bawah sedikit lebih gelap dibandingkan warna tanah pada daerah atas, karena selain bahan organic mempengaruhi pH tanah, juga mempengaruhi warna tanah. (Hardjowigeno,1993)
Berdasarkan hasil pengamatan di daerah dataran tinggi di salah satu desa di Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas (Gambar 1), telah terdapat berbagai macam vegetasi. Macam vegetasi tersebut berupa kebun kakao beserta tanaman pendukung lainnya seperti cabai, jagung, dan singkong. Namun tanaman yang paling dominan adalah tanaman kakao. Pada (Gambar 2) daerah dataran tinggi dengan ketinggian 500-620 m dpl, suhu 23-32 °C, dan pH tanah 7 memang cukup sesuai dengan pertumbuhan tanaman kakao yang dapat tumbuh subur. Tanaman kakao untuk tumbuhnya juga memerlukan kondisi tanah yang mempunyai kandungan bahan organik yang cukup, lapisan olah yang dalam untuk membantu pertumbuhan akar, sifat fisik yang baik seperti struktur tanah yang gembur juga sistem drainase yang baik (Nugroho, 1999).
Tanah mempunyai hubungan erat dengan sistem perakaran tanaman kakao, karena perakaran tanaman kakao sangat dangkal dan hampir 80% dari akar tanaman kakao berada disekitar 15 cm dari permukaan tanah, sehingga untuk mendapatkan pertumbuhan yang baik tanaman kakao menghendaki struktur tanah yang gembur agar perkembangan akar tidak terhambat. Perkembangan akar yang baik menentukan jumlah dan distribusi akar yang kemudian berfungsi sebagai organ penyerapan hara dari tanah. Tanaman kakao menghendaki permukaan air tanah yang dalam. Permukaan air tanah yang dangkal menyebabkan dangkalnya perakaran sehingga tumbuhnya tanaman kurang kuat.
Pada dataran tinggi sistem pertanaman yang digunakan yaitu sistem tanam tumpangsari. Sistem tanam tumpangsari mempunyai banyak keuntungan yang tidak dimiliki pada pola tanam monokultur. Warsana 2009 menyatakan bahwa beberapa keuntungan pada pola tumpangsari antara lain: 1) akan terjadi peningkatan efisiensi (tenaga kerja, pemanfaatan lahan maupun penyerapan sinar matahari), 2) populasi tanaman dapat diatur sesuai yang dikehendaki, 3) dalam satu areal diperoleh produksi lebih dari satu komoditas, 4) tetap mempunyai peluang mendapatkan hasil manakala satu jenis tanaman yang diusahakan gagal, dan 5) kombinasi beberapa jenis tanaman dapat menciptakan stabilitas biologis sehingga dapat menekan serangan hama dan penyakit serta mempertahankan kelestarian sumber daya lahan, dalam hal ini kesuburan tanah.
Pola tanam tumpangsari bila ditinjau dari segi konservasi tanah tampaknya mempunyai efektivitas yang lebih tinggi daipada monokultur. Sukmana dan Erfandi, (1988) mengemukakan bahwa sistem tanam lorong (alley cropping) atau tumpangsari merupakan teknik yang dapat menahan laju aliran permukaan dan mengurangi erosi tanah. Pada tanaman tumpangsari, penutupan tanah oleh vegetasi lebih rapat dan waktunya lebih lama sehingga erosi diharapkan akan lebih kecil

IV. KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan, maka dapat disimpulkan bahwa:
1.   Praktikum transek dilakukan di salah satu desa di Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, dengan mengamati ekosistem dan komunitas di salah satu wialyah pada tiga wilayah yang berbeda,yaitu wilayah bawah, tengah, dan atas. Masing-masing wilayah diamati vegetasinya, berdasarkan parameter yang telah ditentukan, pada tiga titik yang berbeda.
2.   Pengamatan dilakukan dengan berbagai macam parameter. Parameter yang digunakan mencakup aspek topografi wilayah, pola budidaya, keadaan cuaca serta keadaan tanah. Parameter tersebut dianggap mewakili keadaan keseluruhan dari ekosistem dan komunitas wilayah tersebut.  Dengan mengetahui keadaan wilayah, maka akan didapat informasi spesifik yang berguna dalam penanganan masalah apabila terjadi suatu permasalahan
3.  Jenis vegetasi yang ada dari ke-3 tempat memiliki penempatan yang cukup optimal berdasarkan dari ketinggian tempat yaitu pada dataran tinggi, sedang, dan rendah.

DAFTAR PUSTAKA

Heddy, Suwasono. 2011. Analisis Vegetasi Tumbuhan. (On-line).  http://www.wikipedia.com. Diakses 30 Juni 2012.

Hardjowigeno, S. 1985. Klasifikasi Tanah dan Lahan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Kartasapoetra, W. A.G. 1989. Kerusakan Tanah Pertanian. Bina Aksara, Jakarta.
Nugroho S.P.C. 1999. Pengaruh Penggunaan Lahan Perkebunan Kakao Terhadap Kondisi Hidrologi DAS, Studi Kasus Sub DAS Gobeh-Wonogiri. Buletin Teknologi Pengelolaan DAS Surakarta No. V, 1, 1999, hal 53-63.

Setiadi, D. 1984. Inventarisasi Vegetasi Tumbuhan Bawah dalam Hubungannya dengan Pendugaan Sifat Habitat Bonita Tanah di Daerah Hutan Jati Cikampek, KPH Purwakarta, Jawa Barat, Bogor. Bagian Ekologi, Departemen Botani, Fakultas Pertanian IPB.

Syafei. 1990. Dinamika Populasi. Kajian Ekologi Kuantitatif. Pustaka Sinar Harapan, Jakarta.

Umar, M. Ruslan, 2010. Ekologi Umum Dalam Praltikum. Universitas Hasanuddin Press, Makassar.

Warsana. 2009. Introduksi Teknologi Tumpangsari Jagung dan Kacang Tanah. (On-line). http://introduksi%20teknologi%20tumpangsar%20jagung%20 dan%20kacang%20tanahpdf Diakses 30 Juni 2012.

Wisnubroto, S. 1999. Meteorologi Pertanian Indonesia. Mitragana Widya, Yogyakarta.
  
LAMPIRAN
               




 Hasil pengamatan tanaman jagung, padi, dan kangkung dengan perlakuan 
pupuk dan non pupuk kandang
Pengukuran Tinggi Tanaman
Perlakuan
Blok
Rerata Perlakuan
I
II
III
K0Jk
12.5
13.7
17.98
14.73
K0Jp
23.8
24.67
19.07
22.51
K0Jj
45.5
29.83
33.83
36.39
K1Jk
13.2
15.5
23.5
17.40
K1Jp
21.6
28.13
24.83
24.85
K1Jj
39.2
32.5
16.83
29.51
K2Jk
10.7
19.66
16.15
15.50
K2Jp
26.7
33.69
8.25
22.88
K2Jj
29
37.5
29.67
32.06

Pengukuran Bobot Tanaman
Perlakuan
Blok
Rerata Perlakuan
I
II
III
K0Jk
0.4
0.5
0.54
0.48
K0Jp
0.23
0.2
0.397
0.28
K0Jj
3.7
1.63
1.1
2.14
K1Jk
0.93
1.33
0.93
1.06
K1Jp
0.37
0.26
0.16
0.26
K1Jj
2.87
2.03
0.43
1.78
K2Jk
0.9
1.3
0.64
0.95
K2Jp
0.23
0.43
0.217
0.29
K2Jj
2.27
2.9
1.67
2.28

Pengukuran Bobot Akar
Perlakuan
Blok
Rerata Perlakuan
I
II
III
K0Jk
0.1
0.1
0.1
0.10
K0Jp
0.1
0.1
0.33
0.18
K0Jj
0.75
0.43
0.4
0.53
K1Jk
0.1
0.1
0.06
0.09
K1Jp
0.43
0.1
0.06
0.20
K1Jj
0.37
0.43
0.16
0.32
K2Jk
0.1
0.1
0.84
0.35
K2Jp
0.07
0.13
0.067
0.09
K2Jj
1.7
1.2
0.37
1.09

Pengukuran Bobot Tajuk
Perlakuan
Blok
Rerata Perlakuan
I
II
III
K0Jk
0.3
0.4
0.53
0.41
K0Jp
0.13
0.1
0.067
0.10
K0Jj
2.95
1.2
0.7
1.62
K1Jk
0.83
1.23
2.6
1.55
K1Jp
0.27
0.16
0.1
0.18
K1Jj
2.5
1.6
0.26
1.45
K2Jk
0.8
1.2
0.54
0.85
K2Jp
0.16
0.3
0.14
0.20
K2Jj
0.57
1.76
1.14
1.16

Keterangan :
K0       =  Non Pupuk
K1       =  1 Tanah : 1 Kandang
K2       =  2 Tanah : 1 Kandang
Jk         =  Kangkung
Jp         =  Padi
Jj          =  Jagung  


Perlakuangenangan, perlakuan kering dan perlakuan normal

Tinggi Tanaman
Perlakuan
Blok
Rerata Perlakuan
I
II
III
PnJk
4.53
12
15.3
10.61
PnJk
12.77
14
13.5
13.42
PnJj
17.63
0
22.7
13.44
PnJk
15.1
4.83
21.8
13.91
PnJk
22.67
24.83
22
23.17
PnJj
20.5
30.16
32.2
27.62
PnJk
23.2
15.86
13.9
17.65
PnJk
23.8
24.07
12.75
20.21
PnJj
25.5
11.17
28.3
21.66

Bobot Tanaman
Perlakuan
Blok
Rerata Perlakuan
I
II
III
PnJk
0.34
0.8
1.03
0.72
PnJk
0.01
0.74
0.1
0.28
PnJj
1.56
0
2.8
1.45
PnJk
0.63
0.04
1.6
0.76
PnJk
0.13
0.09
0.1
0.11
PnJj
0.92
0.5
2
1.14
PnJk
0.9
0.46
0.16
0.51
PnJk
0.5
0.2
0.55
0.42
PnJj
0.26
0.73
1.05
0.68

Bobot Tajuk
Perlakuan
Blok
Rerata Perlakuan
I
II
III
PnJk
0.31
0.78
0.9
0.66
PnJk
0.08
0.72
0.1
0.30
PnJj
1.24
0
2.3
1.18
PnJk
0.58
0.03
0.9
0.50
PnJk
0.1
0.06
0.1
0.09
PnJj
0.54
0.37
1.5
0.80
PnJk
0.77
0.36
0.96
0.70
PnJk
0.23
0.1
0.45
0.26
PnJj
0.15
0.23
0.85
0.41

Bobot Akar
Perlakuan
Blok
Rerata Perlakuan
I
II
III
PnJk
0.13
0.02
0.13
0.09
PnJk
0.02
0.02
0
0.01
PnJj
0.41
0
0.5
0.30
PnJk
0.04
0.01
0.5
0.18
PnJk
0.04
0.02
0.13
0.06
PnJj
0.31
0.1
0.16
0.19
PnJk
0.12
0.1
0.21
0.14
PnJk
0.82
0.1
0.1
0.34
PnJj
0.11
0.5
0.2
0.27

Keterangan :
Pg        =  genangan
Pk        =  Kering
Pn        =  normal
Jk         =  kangkung
Jp         =  padi
Jj          =  jagung










   

         














































0 opmerkings:

Plaas 'n opmerking